Sabtu, 06 Desember 2014

Indonesia, Never Ending Heritage


Rosalia

Fergie

Stevanie

Aku masih ingin bertutur tentang impian kita, dunia tanpa sekat tajam
 

Indonesia, Never Ending Heritage

 
REP | 16 December 2013 | 12:30 Dibaca: 87   Komentar: 4   2
Akhir pekan, kota Jogja diguyur hujan deras. Untunglah pada siang hari itu, saya sudah lama berada di lantai dua Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM. Memasuki ruang seminar, dingin semakin kuat. Akan tetapi, saya tetap antusias. Sebelumnya saya telah memutuskan untuk menghabiskan setengah dari waktu berhari minggu, dengan bergabung bersama Masyarakat Advokasi Warisan Budaya (Madya) juga rekan-rekan peserta Workshop & Jelajah Pengenalan Pelestarian Warisan Budaya.
Pada awalnya, saya pikir tidak banyak orang tertarik mengikuti kegiatan ini. Ternyata, peserta tidak terbatas pendidikan, pekerjaan, bahkan jarak antar kota. Selain itu pembicara juga sudah berpengalaman di bidang budaya dan arkeologi, Dr. Daud Aris Tanudirjo, MA. (Dosen Arkeologi/ Wakil Dekan Fak. Ilmu Budaya UGM, Jhohannes Marbun (Koordinator Madya), dan Dra. Wahyu Astuti (kepala seksi di Balai Pelestarian Cagar Budaya Jogja). Sedangkan moderator adalah Asyhadi Mufsi Sadzali dari magister arkeologi UGM. Dan, tak kalah istimewa, diantara para peserta ada Muhammad Sartono alias Abang Ahmad, dari komunitas Sahabat Budaya Indonesia.
1387163680102754762
Sebelum mengikuti event ini, saya sering mendengar persepsi yang menurut saya, keliru. Ada sebagian orang berpendapat bahwa menjaga benda-benda kuno sama saja dengan menyembah “isi” benda itu. Tentu saja setiap orang memang berhak berpandangan atau berpendapat, akan tetapi perlu diingat jika bangsa kita lahir dari peradaban yang memiliki kekayaan makna budaya, dan bisa kita ambil maknanya dengan mengetahui mengapa, untuk apa dan bagaimana mereka membuat sebuah benda, bangunan, seni dan tradisi. Di kemudian hari, dari proses penggalian, banyak orang menemukan karya dari para pendahulu kita yang terpendam sangat lama di perut bumi misalnya Candi dan Arca. Dan kita, dapat memaknai warisan ini dalam berbagai sudut pandang positif. oleh karena itu, tidak selalu tepat jika upaya menjaga dan melestarikan warisan budaya akhirnya dipahami sebagai bentuk penyembahan.
Anggapan “Tidak Penting” mungkin juga dapat menyebabkan pemerintah maupun masyarakat menjadi enggan melestarikan warisan budaya. Akhirnya terjadi pencurian serta transaksi jual beli benda kuno kepada kolektor-kolektor asing. Selain itu, banyak banginan kategori cagar budaya yang mengalami penghancuran massal demi kepentingan proyek-proyek raksasa. Kondisi ini cukup memprihatinkan sebab seringkali meskipun masyarakat setempat sudah memiliki kesadaran tinggi untuk menjaga peninggalan tersebut, pemerintah justru lepas tangan.
Padahal, jika kita ingin membangun dasar kekuatan pariwisata untuk menarik kedatangan wisatawan asing, setiap jengkal keotentikan warisan budaya baik berwujud lanskap, situs, tempat bersejarah, museum, maupun praktek budaya di masyarakat menjadi sangat penting diberdayakan. Sebab, perlu disadari jika seringkali motivasi para wisatawan asing melakukan perjalanan wisata semata-mata untuk menikmati nuansa baru yang jauh dari pengaruh industri global. Pada akhirnya mereka memilih tempat-tempat wisata yang menawarkan panorama alam serta wisata budaya yang masih asli. Inilah yang dapat kita sebut dengan kesadaran di dalam wawasan pariwisata Ecotourism.
Memang sangat disayangkan jika penghancuran maupun pencurian tidak sempat dicegah atau tidak tertangani dengan baik. Saya cukup tertarik dengan cerita Bapak Daud, tentang fakta bahwa cukup banyak benda cagar budaya dari Indonesia yang masuk ke pasar gelap dan ditawarkan dalam katalog beberapa lembaga lelang di luar negeri. Masih segar juga dalam ingatan kita tentang Museum Sonobudoyo dan Museum Nasional yang kehilangan berbagai artefak berharga karena sistem pengamanan sangat rapuh.
Oleh karena itu, kesadaran masyarakat sangatlah penting guna mencegah kepunahan warisan budaya bangsa. Bahkan seluruh upaya pelestarian warisan budaya oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB),  seperti yang disampaikan Ibu Wahyu Astuti,  tidak akan bisa berjalan baik jika kurang tersentuh oleh dukungan masyarakat. Untuk itulahkomunitas berperan penting mencegah semua tindakan yang mengarah pada tindak penghancuran massal seluruh warisan budaya dengan menyuarakan aspirasi kepada pemerintah setempat.
Sayangnya, tidaklah selalu cukup mengandalkan bantuan pemerintah untuk ikut aktif menjaga cagar budaya di suatu daerah. berangkat dari keprihatinan atas kondisi yang terjadi pada situs sejarah di daerah Trowulan, di Mojokerto Jawa Timur, lahirlah komunitas Madya. Menurut Bapak Jhohannes Marbun, Madya berupaya menguatkan peran komunitas lokal untuk aktif memperhatikan kekayaan cagar budaya di daerahnya masing-masing. Beberapa kegiatan advokasi sudah sering dilakukan, salah satunya workshop berlanjut sesi jelajah pengenalan pelestarian warisan budaya, seperti yang saya ikuti ini.
Setiap peserta dibagi dalam kelompok yang masing-masing akan mengunjungi empat tempat di Jogja yaitu Benteng Vredeburg, Kotabaru, Kotagede dan Tamansari. Tentu ini bukan sekedar jalan-jalan biasa, sebab kami harus mengkritisi sistem pengelolaan Cagar Budaya di masing-masing tempat.
Saya dan beberapa rekan mengunjungi kawasan Kotabaru. Menurut saya, keistimewaan Kotabaru yang membuatnya dapat melengkapi Benteng Vredeburg, Tamansari dan Kotagede, adalah keistimewaan pada arsitektur bangunan kuno berciri khas Belanda-kolonial. Sebut saja, dari Rumah Sakit Panti Rapih, Rumah Sakit Dokter Yap, beberapa cafe, rumah warga, serta rumah ibadah seperti Gereja dan Masjid yang letaknya hampir berdekatan. Saya baru mengetahui jika pada jaman penjajahan, Kotabaru termasuk kawasan elite di Jogja. Banyak orang Belanda bekerja sebagai pengusaha dan pekerja pabrik, bermukim di Kotabaru. Oleh karena itulah, mereka membuat bermacam gedung layanan publik salah satunya rumah sakit mata Dr. Yap yang masih kokoh dalam ciri khas lamanya.
Eksistensi bangunan cagar budaya seringkali menghadapi tekanan dan dilema. Kalau tidak hancur sendirinya atau mengalami penghancuran, maka cagar budaya sering beralih fungsi menjadi pusat kegiatan komersil, ataupun masih tetap menjadi rumah dengan perubahan sesuai keinginan pemilik. Memang alih fungsi bangunan tua untuk kepentingan pribadi maupun komersil, tidak sepenuhnya salah dan melanggar  UU Cagar Budaya nomor 11 tahun 2010 terutama jika memang izin sudah diloloskan oleh pemerintah setempat. Hanya saja demi pelestarian nilai historisnya, pemilik perlu mempertimbangkan untuk tidak merombak total keseluruhan bentuk bangunan tersebut.
Oleh karena itu, sesungguhnya Kotabaru tidak kalah dengan Museum Benteng Vredeburg, Kotagede maupun Tamansari yang memang sudah populer sebagai kawasan wisata budaya dan sejarah. Bangunan-bangunan berciri khas kolonial  bisa dimanfaatkan tidak sekedar untuk pelayanan publik, tetapi juga pariwisata kota. Namun, program untuk membuat kota Jogja menjadi pusat pariwisata, tentu haruslah didukung dengan ketersediaan kawasan wisata yang umumnya diinginkan oleh wisatawan, Eco-Tourism.

 
Abang Ahmad Sahabat Budaya berkaos Putih
1387167002788422592
13871671232045816116
13871673091618041566
Usai sesi jelajah wisata, seluruh peserta workshop berkumpul di Benteng Vredeburg untuk berdiskusi lalu mempresentasikan hal-hal menarik apa yang diperoleh selama berada di kawasan cagar budaya, kemudian memikirkan bagaimana sebaiknya pelestarian dilakukan.
138717067592422374
Kita bersama menyadari, betapa kayanya potensi wisata Indonesia, apapun yang diinginkan oleh wisatawan asing, tersedia hampir di semua penjuru negeri. Namun sayangnya, pemerintah dan sebagian besar masyarakat, justru tidak memiliki kepekaan tinggi untuk memelihara seluruh aset berharga bangsanya.
Sebagai peserta saya sangat mengapresiasi upaya Madya untuk mendorong keperdulian masyarakat terhadap pemeliharaan Cagar Budaya, sehingga kemudian terjadi pertemuan serta persahabatan diantara para pecinta-pemerhati cagar budaya, dari berbagai daerah di Indonesia.
Semoga untuk event selanjutnya di tahun baru, yaitu temu Nasional Aktivis/Relawan Pelestari Warisan Budaya, dapat berjalan lancar sehingga mampu mendorong animo masyarakat untuk lebih tanggap menjaga warisan budaya milik bangsa ini.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    2
KOMENTAR BERDASARKAN :
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

adalah media warga.
Ayo ikut menulis bersama 275776 Kompasianer


HEADLINE ARTICLES

Internet di Pelosok Timur Indonesia Laksana …

Anis Kurniawan | | 13 February 2015 | 10:39

Terkait Foto Menteri Susi Merokok di atas …

Christian Kelvianto | | 13 February 2015 | 11:53

Daftar dan Tonton KompasianaTV di …

Kompasiana | | 13 February 2015 | 14:17

Lagi, Kios Rakyat Di Selasar Kartini …

Bambang Setyawan | | 13 February 2015 | 13:17

Saat Terbaik untuk Mencintai …

Wahyu 'wepe' Pramud... | | 13 February 2015 | 10:29


TRENDING ARTICLES

Puan Minta Dana Revolusi Mental, Revolusi …

Ifani | 7 jam lalu

Lelahnya Menteri Susi dan Buruknya Birokrasi …

Susy Haryawan | 9 jam lalu

Benarkah Dalang Bali Nine Kini Hidup dalam …

Ronny Noor | 9 jam lalu

Konspirasi Besar Penghancuran KPK, dan …

Imam Kodri | 10 jam lalu

Titik Lemah Abraham Samad …

Muthiah Alhasany | 11 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana:

0 komentar:

Posting Komentar